Friday, April 20, 2012

Corak-corak Tafsir Indonesia

CORAK TAFSIR DI INDONESIA Oleh: M. Zulkarnain.M, S.Th.I PENDAHULUAN Latar Belakang dan Rumusan Masalah Al Qur’an yang dalam memori kolektif kaum muslimin sepanjang abad sebagai kalam Allah, menyebut dirinya sebagai “ petunjuk bagi manusia” dan memberikan “penjelasan atas segala sesuatu” sedemikian rupa sehinggga tidak ada sesuatupun yang ada dalam realitas yang luput dari penjelasannya. Bila diasumsikan bahwa kandungan al Qur’an bersifat universal, berarti aktualitas makna tersebut pada tataran kesejarahan meniscayakan dialog dengan pengalaman manusia dalam konteks waktu. Hal ini juga berlaku dengan kajian tafsir yang ada di Indonesia. Sesuai dengan kondisi sosio-historisnya, Indonesia juga mempunyai perkembangan tersendiri dalam kaitannya dengan proses untuk memahami dan menafsirkan al Qur’an. Perkembangan penafsiran al Qur’an di Indonesia agak berbeda dengan perkembangan yang terjadi di dunia Arab yang merupakan tempat turunnya al Qur’an dan sekaligus tempat kelahiran tafsir al-Qur’an. Perbedaan tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan latar belakang budaya dan bahasa. Karena bahasa Arab adalah bahasa mereka, maka mereka tidak mengalami kesulitan berarti untuk memahami bahasa al Qur’an sehingga proses penafsiran juga lumayan cepat dan pesat. Hal ini berbeda dengan bangsa Indonesia yang bahasa ibunya bukan bahasa Arab. Karena itu proses pemahaman al Qur’an terlebih dahulu dimulai dengan penerjemahan al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia baru kemudian dilanjutkan dengan pemberian penafsiran yang lebih luas dan rinci. Oleh karena itu pula, maka dapat dipahami jika penafsiran al Qur’an di Indonesia melalui proses yang lebih lama jika dibandingkan dengan yang berlaku di tempat asalnya. Dalam makalah ini penulis mencoba untuk membahas berbagai kajian tafsir yang ada di Indonesia mulai dari abad klasik sampai dengan moderen. Pembatasan waktu ini penulis ambil dari periodesasi yang pernah dibuat oleh Dr. Nasiruddin Baidan dalam karyanya Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia yaitu dari abad Klasik sampai dengan Abad Moderen. Disisi lain penulis juga menggunakan bentuk periodesasi yang dibuat oleh Federspiel dalam karyanya tentang kemunculan dan perkembangan tafsir al Qur’an di Indonesia yaitu awal abad XX sampai dengan tahun 1960-an, 1960 – 1970-an dan tahun 1970an sampai dengan sekarang dimana periodesasi yang kedua ini tidak luput dari kritikan, namun penulis memakai kedua bentuk tersebut di atas dalam rangka mempermudah sebab sejauh menyangkut periodesasi perkembangan penafsiran di Indonesia, pembagian Nasiruddin Baidan dan Federspiel inilah yang cukup mewakili. Makalah ini mencoba untuk membahas corak tafsir yang ada di Indonesia mulai dari Abad Klasik sampai dengan Moderen. Hanya saja karena banyaknya karya-karya tafsir yang ada di Indonesia, maka makalah ini akan menjelaskan secara lebih rinci pada tafsir lengkap 30 juz, sedangkan karya tafsir yang bersifat tematis, maupun yang hanya menfokuskan pada surat-surat tertentu akan penulis ulas secara lebih singkat sehingga diharapkan kajian ini akan mencakup keseluruhan karya tafsir yang ada di Indonesia secara komprehensif. PEMBAHASAN A. Pengertian Corak Tafsir Dalam kamus bahasa Indonesia kata corak mempunyai beberapa makna. Di antaranya Corak berarti bunga atau gambar (ada yang berwarna -warna ) pada kain( tenunan, anyaman dsb), Juga bermakna berjenis jenis warna pada warna dasar, juga berarti sifat( faham, macam, bentuk) tertentu[1]. Kata corak dalam literatur sejarah tafsir, biasanya digunakan sebagai terjemahan dari kata al-laun, bahasa Arab yang berarti warana. Istilah ini pula di gunakan Azzahaby dalam kitabnya At-Tafsir Wa-al-Mufassirun.Berikut potongan ulasan beliau (وعن ألوان التفسير فى هذا العصر الحديث….) (Tentang corak-corak penafsiran di abad modern ini).[2] Jadi, corak tafsir adalah nuansa atau sifat khusus yang mewarnai sebuah penafsiran dan merupakan salah satu bentuk ekspresi intelektual seseorang mufassir, ketika ia menjelaskan maksud-maksud ayat al-Qur’an. Artinya bahwa kecenderungan pemikiran atau ide tertentu mendominasi sebuah karya tafsir. Kata kuncinya adalah terletak pada dominan atau tidaknya sebuah pemikiran atau ide tersebut . Kecenderungan inilah yang kemudian muncul ke permukaan pada periode abad pertengahan. Abad pertengahan, boleh dikatakan sangat didominasi oleh “kepentingan”(intrest) spesialisasi yang menjadi basis intelektual mufassir, karena keanekaragaman corak penafsiran sejalan dengan keragaman disiplin ilmu yang berkembang saat itu. Ini terjadi karena minat pertama dan utama para mufassir saat itu sebelum ia bertindak menafsirkan al-Qur’an adalah kepentingannya. Disisi lain ilmu yang berkembang di tubuh umat Islam selama periode abad pertengahan yang bersentuhan langsung dengan keislaman adalah ilmu fiqih, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, sastra dan filsafat. Karena banyaknya orang yang berminat besar dalam studi setiap disiplin ilmu itu yang menggunakan basis pengetahuanya sebagai kerangka dalam memahami al-Qur’an, bahkan beberapa di antaranya secara sengaja mencari dasar yang melegitimasi teori-teorinya dari al-Qur’an, maka muncullah kemudian tafsir fiqhy, tafsir I’tiqady, tafsir sufy, tafsir ilmy dan tafsir falsify. Dan lain-lain.[3] Kemudian kita beralih ke kata tafsir, kata tafsir merupakan Mashdar dari kata يُفَسِّرُ – تَفْسِيْر- فَسَّرَ yang dalam kamus Al-Munawweir bermakna Tafsiran, interpretsi, penjelasan, komentar, dan keterangan.[4] arti tafsir itu sendiri menurut bahasa adalah التفسيير هو الإيضاح والتبيين (Tafsir menurut bahasa adalah menjelaskan, menerangkan).[5] Sedangkan dalam kitab Kitab Lisaanul Arab di jelaskan bahwa Kata tafsir terambil dari kata الفسر yang berarti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup. Sedangkan kata at-Tafsir juga bermakna menyingkap maksud sesuatu yang sulit.[6] Adapun tafsir menurut Istilah adalah: التفسير علم يعرف به فهم كتاب الله المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم وبيان معانيه واستخراج أحكامه وحكمه. Terjemahannya: Tafsir adalah Ilmu untuk memahami kitabullah yang di turunkan kepada nabi Muhammad SAW untuk menjelaskan makna-maknanya, menyimpulkan hukum –hukumnya dan hikmah-hikmahnya.[7] Jadi, corak tafsir adalah nuansa atau sifat khusus yang mewarnai sebuah penafsiran dan merupakan salah satu bentuk ekspresi intelektual seseorang mufassir, ketika ia menjelaskan maksud-maksud ayat al-Qur’an. Artinya bahwa kecenderungan pemikiran atau ide tertentu mendominasi sebuah karya tafsir . kata kuncinya adalah terletak pada dominan atau tidaknya sebuah pemikiran atau ide tersebut. Kecenderungan inilah yang kemudian muncul ke permukaan pada periode abad pertengahan. Adapun corak-corak tafsir yang berkembang adalah sebagai berikut : 1. 1. Corak Sastra Bahasa; munculnya corak ini diakibatkan banyaknya orang non-Arab yang memeluk Islam serta akibat kelemahan orang-orang Arab sendiri di bidang sastra sehingga dirasakan perlu untuk menjelaskan kepada mereka tentang keistimewaan dan kedalaman arti kandungan Al-Qur’an di bidang ini. 2. 2. Corak Filsafat dan Teologi; corak ini muncul karena adanya penerjemahan kitab-kitab filsafat yang mempengaruhi beberapa pihak serta masuknya penganut agama-agama lain ke dalam Islam yang pada akhirnya menimbulkan pendapat yang dikemukakan dalam tafsir mereka. 3. 3. Corak Penafsiran Ilmiah; corak ini muncul akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka muncul usaha-usaha penafsiran Al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu yang terjadi. 4. 4. Corak Fikih; corak ini muncul akibat perkembangan ilmu fikih dan terbentuknya mahzab-mahzab fikih maka masing-masing golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran-penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum. 5. 5. Corak Tasawuf; corak ini muncul akibat munculnya gerakan-gerakan sufi maka muncul pula tafsir-tafsir yang dilakukan oleh para sufi yang bercorak tasawuf. 6. 6. Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan; corak ini dimulai pada masa Syaikh Muhammad Abduh yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, usaha-usaha untuk menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat, dengan mengemukakan petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti namun enak didengar.[8] B. Corak Tafsir Al-Qur’an di Indonesia Pada pembahasan sebelumnya menunjukkan bahwa secara umum terdapat enam corak yang digunakan dalam melakukan penafsiran al-Qur’an adapun di Indonesia berdasarkan hasil pemetaan Islah Gusmian, adalah bahwa corak atau nuansa karya-karya tafsir yang ada di Indonesia dari periode ke periode ada lima yaitu; Pertama: Corak Sastra Bahsa, Kedua: Corak Sosial Kemasyarakatan, Ketiga: Corak Teologis, Keempat: Corak Sufistik dan Kelima: Corak Psikologis.[9] Dari keenam dan atau kelima corak-corak tafsir tersebut akan diuraikan dalam bentuk periodesasi perekmbangan penafsiran al-Qur’an di Indonesia. 1. 1. Corak Tafsir al-Qur’an Pada Periode Klasik (VIII-XV M) Pengkajian al-Qur’an di di Indonesia telah ada sejak masuknya Islam di Indonesia yang dibawa oleh sekolompok pedagang Arab dan Gujarat India. Adapun bentuk-bentuk pendekatan dalam melakukan penyebaran Islam di Indonesia lebih di dominasi oleh pendekatan sufisme, melihat agama yang dianut oleh penduduk di Indonesia – sebelum datangnya Islam – adalah agama Hindu dan budha. Pengkajian terhadap al-Qur’an pada masa ini masih belum menemukan bentuknya yang baku, meskipun pada masa ini kitab-kitab tafsir karya para ulama dunia telah ada, namun untuk skala Indonesia, penafsiran al-Qur’an masih berada pada wilayah penjelasan ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat ferbal-praktis dan penjelasan-penjelasan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan pemahaman pembawa ajaran Islam baik dari Arab maupun Gujarat India ke Nusantara. Melihat dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada masa ini penafsiran terhadap al-Qur’an masih dalam bentuk penafsiran umum dan penjelasan terhadap al-Qur’an untuk kebutuhan dakwah Islamiyah. Sehingga untuk melacak karya-karya yang muncul pada masa ini Indonesia sangat susah disebabkan oleh beberap faktor diantaranya, pertama; bahwa tulisan pada masa itu belum begitu penting bagi masyarakat Indonesia, kedua; bahwa masyarakat Indonesia pada masa itu lebih memilih penjelasan-penjelasan praktis terhadap isi dan kandungan al-Qur’an ketimbang membaca karya-karya yang pernah ada di negeri Arab, ketiga; bahwa masayarakat yang telah memeluk Islam dari kalangan pribumi masih membutuhkan waktu untuk belajar membaca huruf-huruf Arab yang secara kultural huruf-huruf tersebut, masih tergolong asing dikalangan masyarakat Indonesia. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa pengaruh Arab terhadap huruf-huruf di Indonesia sangat besar, sehingga huruf-huruf yang digunakan dalam bahasa melayu pada awalnya adalah huruf-huruf Arab. Dari analisis di atas menunjukkan bahwa pada peride ini penfsiran al-Qur’an masih bersifat umum dan tidak mengacu pada satu corak tertentu disebabkan karena kondisi dan kebutuhan masyarakat pada periode tersebut.[10] 1. 2. Corak Tafsir al-Qur’an Pada Periode Pertengahan (XVI-XVIII M) Pada periode sebelumnya (periode klasik abad VII-XV M) disebutkan bahwa penafsiran belum menampakkan bentuk tertentu yang mengacu pada metode al-Ma’sur atau al-Ra’yu dan tidak pula menampakkan corak tertendu baik sastra, fiqhi, filsaafat dan teologi, tasawuf, ilmi, sosial kemasyarakatan maupun psikologi. Akan tetapi masih bersifat umum dan menggunakan seluruh corak penafsiran serta masih mengandalkan ingatan dalam menafsirkan al-Qur’an. Pada periode ini sudah mulai berkenalan dengan kitab-kitab tafsir yang dibawa atau didatangakan dari Timur Tengah, seperti Kitab Tafsir Jalalain. Kitab-kitab tersebut dibacakan kepada murid-murid, lalu diterjemahkan kedalam bahasa murid (Melayu, Jawa, dan sebagainya). Dalam proses tafsir seperti ini, para guru masih terikat dengan corak tafsir yang ada dalam teks kitab tafsir al-Jalalain dengan metode tafsir Ijmaly[11], artinya bahwa pada periode ini belum ada inisiatif pengembangan pemahaman secara analitis dan kritis terhadap suatu ayat kecuali sebatas pemahaman tekstual kitab tafsir tertentu dalam hal ini kitab Tafsir al-Jalalain. Hal ini juga menunjukkan bahwa tafsi al-Jalalain merupakan tafsir terpopuler pada masa tersebut. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa penafsiran terhadap al-Qur’an pada abad ini berkembang dengan baik dengan terlacaknya beberapa karya ulama nusantara dalam bidang tafsir, diantara karya-karaya tersebut adalah : a) Terjemahan Al-Qur’an Karya Hamzah Fansury Hamzah Fansury hidup antara tahun 1550-1599 karya beliau lebih kepada penerjemahan terhadap al-Qur’an ayat per-ayat dengan menggunakan komentar-komentar ringkas tentang kandungan ayat al-Qur’an yang disusun dalam bahasa melayu dengan menyelipkan beberapa syair yang sarat dengan makna-makna yang dibubuhi pemahaman tasawuf. Corak penafsiran al-Qur’an yang disusun oleh Hamzah Fansury adalah bercorak Tasawwuf dimana beliau melakukan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam bentuk penafsiran sufistik dalam tradisi Ibnu ‘Arabi, beliau menyatukan ke dalam syair-syair dan mencampur bahasa arab dan melayu dengan keliahian yang cukup mengagumkan.[12] Salah satu contoh bait syair dari salah satu sajak empat barisnya yang merupakan interpretasi terhadap Q.S al-Ikhlash (112): laut itulah yang bernama ahad terlalu lengkap pada asy’us-samad olehnya itulah lam yalid wa lam yulad wa lam yakun lahu kufu’an ahad[13] contoh bait syair yang di kutip oleh A.H. Jhons di atas, menunjukkan bahwa corak yang mendominasi penafsiran Hamzah Fansury adalah corak tasawwuf yang terungkapkan dalam bentuk bait-bait syair, sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi terdahulu dalam mengekspresikan pemahaman tasawwufnya seperti Ibnu ‘Araby dan selainnya. b) Tafsir Surat al-Kahfi Sebagaimana keterangan Anthony H. Jhons bahwa karya tersebut merupkan manuskrip tertanggal tahun 1620 yang terdiri dari terjemahan melayu dan tafsir Q.S al-Kahfi (18) dengan gaya bahasa yang fasih dan idiomatis. Ada yang mengidentifikasi bahwa karya tersebut kemungkinan adalah karya hamzah al-Fansury, namun ternyata tidak sebab hamzah al-Fansury wafat pada tahun 1599 sementara karya ini tertanggal 1620, pada sisi yang lain karya ini berbeda dengan karya dan corak yang digunakan oleh Hamzah al-Fansury, dimana karya ini telah menggunakan metode penafsiran yang baik, dan dapat dipastikan pula bahwa karya ini merupakan terjemahan dari tafsir al-Khazin surah al-Kahfi.[14] Adapun corak tafsir yang terdapat pada manuskrip yang tidak teridentifikasi penulisnya ini adalah corak tasawwuf, hanya saja mazhab tasawwuf yang dugunakan dalam menafsirkan al-Qur’an adalah mazhab yang berbeda dari mazhab yang dianut oleh Hamzah Fansury. Selain itu metode penyajiannya termasuk kajian al-Qur’an yang telah terbangun dengan baik. c) Karya Syamsuddin as-Sumatrany Adapun karya-karya Syamsuddin as-Sumatrany tidak ada yang bertahan termasuk karyanya dalam bidang tafsir al-Qur’an. Namun meskipun demikian dapat diidentifikasi bahwa karya-karaya beliau bertaburan ayat-ayat dan frasa dari al-Qur’an. Kebanyakan dariayat-ayat tersebut dibubuhi dengan pembahasan tasawuf dan diterjemahkan ke dalam bahasa melayu dengan makna tasawwuf pula.[15] Jadi dapat dikatakan bahwa corak penafsiran yang terdapat dalam karya-karya Syamsuddin adalah bercorak tasawwuf dengan menggunakan mazhab Ibnu ‘Araby, sebagaimana yang dianut oleh Hamzah Fansury. d) Nuruddin ar-Raniry Adapun karya-karya Nuruddin ar-Raniry semuanya musnah terbakar termasuk di dalamnya adalah karya tafsir beliau, hal ini lebih disebabkan karena beliau sangat bersemangat dalam menyerang pemahaman mistis tasawwuf Hamzah dan Syamsuddin, sehingga seluruh karyanya dibakar dan para pengikutnya banyak yang dieksekusi.[16] e) Turjuman al-Mustafid Karya Abdurrauf Sinkel Abdul Rauf Singkel hidup antara 1615-1690 M, dimana beliau memiliki sebuah karya yang diberi judul Turjuman al-Mustafid. ada beberapa diantara peneliti yang menyebutkan bahwa karya ini merupakan terjemahan dari karya al-Baidhawy yang berjudul Anwaru at-Tanzil wa Asrar at-Takwil akn tetapi setelah dilakukan penelitian kembali ternyata karya tersebut merupakan karya individu As-Sinkily, yang di dalamnya banyak mengungkapkan atau mengutip dari tiga karya tafsir yaitu Tafsir al-Jalalain, Tafsir al-Baidhawy dan Tafsir al-Khazin.[17] Corak penafsiran yang disuguhkan oleh Abdurrauf tidak jauh dari corak penafsiran kitab al-Jalalain, dimana beliau secara diam-diam mengagumi karya Jalauddin al-Mahalli dan as-Suyuthy ini, selain itu karya Abdurrauf ini jauh dari corak tasawwuf, beliau dominan pada penterjemahan ayat-ayat per-ayat dalam bahasa melayu dengan menjelaskan asbab Nuzul dan Qiraat yang diperolehnya dari kitab al-Jalalain. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa karya Abdurrauf ini merupakan batu loncatan pertama dalam bidang tafsir al-Qur’an di Indonesia yang dapat membantu masyarakat dalam memahami arti-arti secara harfiyah ayat-ayat al-Qur’an dalam bahasa lokal. Analisis atas karay Abdurrauf tersebut di atas menunjukkan bahwa kitab Turjumanul Mustafid lebih dapat kita katakan adalah karya tafsir yang lebih mengutamakan faktor kebahasaan dari setiap ayat secara global untuk diselaraskan dengan kearifan lokal sehingga dapat memberikan kemudahan dalam pengajaran al-Qur’an. Adapun tesis yang menunjukkan bahwa karaya Abdurrauf bercorak umum terbantahkan mengingat bahwa karya ini bersinergi dengan karya al-Jalalain, al-Kahzin, dan al-Baidhawy. Sebagai sebuah catatan bahwa karya Abdurrauf ini merupakan karya tafsir pertama dalam bahasa lokal yang menguraikan ayat-ayat al-Qur’an secara lengkap 30 juz dengan menggunakan metode Ijmaly. 1. 3. Corak Tafsir al-Qur’an Pada Periode Pra-Moderen (XIX M) Pada periode ini perkembangan tafsir al-Qur’an cenderung melemah sehingga bukan berarti tidak meningkat, hanya saja dari segi penulisan boleh dikatakan bahwa karya tafsir pada peride ini tidak ada. Jika pada periode sebelumnya –peride pertengahan- tulisan-tulisan dan karya-karya dalam bidang tafsir telah ada bahkan telah diterbitkan serta mendapatkan coraknya tersendiri, namun pada periode ini tidak ditemukan sepucuk karya pun dalam bidang tafsir –selain karya Nawawi al-Banteni yang secara sosio historis karyanya ditulis di Mekkah dan diterbitkan di sana-, yang ada hanyalah pengkajian al-Qur’an lewat majlis-majlis yang ada dirumah-rumah atau di suarau-surau yang sifatnya terbatas. Secara logika sebenarnya kenyataan ini tidak dapat di cerna sebab pada abad sebelumnya terdapat karya yang bersifat monumental dalam bidang tafsir seperti karaya Abdurrauf Singkel namun pada periode ini tidak terdapat satu pun karya yang dapat dikatakan lebih komprehensif dan lebih kritis dari karya-karya yang sebelumnya. Kenyataan ini sebenarnya lebih diakibatkan oleh faktor keadaan yang terjadi pada masa ini, dimana pada peride ini Belanda berhasil mengencangkan cengkramannya di berbagai tempat di Indonesia, bahkan tidak sedikit diantara para ulama yang ada pada masa tersebut berada diantara dua bentuk aktifitas disisi lain mereka harus mengajarkan Islam kepada para generasi muda harapan bangsa, dan pada sisi yang lain pula mereka harus berjuang mempertahankan harkat dan martabat Negara agar tidak dicaplok oleh kekuasaan Belanda. Kesibukan inilah yang menyebabkan para ulama yang ada pada masa pra-modern tidak mampu menorehkan pemahamn mereka terhadap al-Qur’an dengan tinta di atas kertas, sebab mereka harus berhadapan dengan kekuatan Belanda yang secara structural telah mengasai Indonesia yang pemerintahannya pada masa itu disebut dengan masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa corak penafsiran al-Qur’an padaperiode ini kembali menggunakan corak umum sebagaimana yang terjadi pada masa klasik. 1. 4. Corak Tafsir al-Qur’an Pada Periode Moderen (XX-XI M) Corak tafsir al-Qur’an di Indonesia pada periode ini dapat dibagi ke dalam dua jenis karya yaitu; 1). Karya tafsir yang muncul pada era tahun 1900-1950, 2) Karya tafsir yang ditulis pada awal tahun 1951-1981. 1. Corak karya tafsir pada era tahun 1900-1950 Terdapat tiga karya tafsir yang cukup representatif mewakili karya-karya tafsir yang lahir pada era tahun 1900 ketiga adalah: 1) Al-Furqan karya Ahmad Hassan 2) Tafsir al-Qur’an Bahasa Indonesia karya Mahmud Azis. 3) Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Mahmud Yunus Ketiga karya di atas memiliki beberapa persamaan yang sangat menonjol diantaranya adalah : a) Defenisi istilah-istilah yang terdapat di dalamal-Qur’an dan masalah-masalah yang ditemukan dalam penterjemahan. Maksudnya bahwa ketiga penulis tersebut merasa perlu untuk menjelaskan teknik penerjemahan dan beberapa asumsinya. b) Defenisi tentang konsep-konsep Islam. Ketiga karya tersebut memberikan informasi tentang konsep-konsep dasar Islam seperti keyakinan dan syariat yang diungkapkan di dalam al-Qur’an. c) Menjelaskan garis-garis besar kandungan al-Qur’an. Hal ini dapat ditemukan dalam karya Hamidy dan Mahmud Yunus, dimana Hamidy memnjelaskan garis-garis besar kandungan ayat al-Qur’an dalam 16 halaman, sementara Mahmud Yunus membuat garis-garis besar kandungan al-Qur’an dalam 30halaman. d) Catatan kaki, dalam catatan kaki tersebut, ketiganya berusaha untuk menjelaskan kata atau kalimat tertentu dan untuk memperjelas kembali makna teks agar lebih memperjelas maksudnya. e) Mengungkapkan sejarah al-Qur’an, dimana dua diantara ketiga karya tersebut menguraikan tentang proses turunnya al-Qur’an, pengumpulan dan pemeliharaannya. f) Menyebutkan indeks dan daftar kata yang disusun secra alfabet dengan tujuan agar pembaca mendapatkan keterangan akan suatu kata atau kalimat dalam al-Qur’an.[18] Jika kita memperhatikan bentuk kesamaan dari tiga karya di atas, dapat dikatakan bahwa corak tafsir pada masa ini adalah bersifat umum, dimana tidak terdapat diantara ketiga karya tersebut di atas yang mengacu pada satu corak tertentu atau tidak ada corak yang dominan yang menjadi ciri bagi masing-masing karya.[19] Selain dari ketiga karya di atas masih terdapat tiga karya lainnya yang berada pada posisi yang sama yaitu; 1). Qur’an Indonesia (1932) yang disusun oleh Syarikat Kweek School Muhammadiyah, 2). Tasir Hibarna (1934) karya Iskandar Idris, 3). Tafsir Syamsiyah karya K.H Sanusi.[20] 1. Corak karya tafsir pada era tahun 1951-1980 Pada era ini karya-karya tafsir diindonesia mulai menampakkan perkembangan yang lebih baik dari sebelumnya dimana bentuk-bentuk penafsiran terhadap teks-teks ilahi yang tertuang di dalam al-Qur’an lebih merespon keadaan zaman, diantara karya-karya yang muncul pada era ini adalah : 1) Al-Qur’an dan Terjemahannya oleh Departemen Agama R.I 2) Al-Qur’an dan Terjemahannya oleh Yayasan Bahrul Ulum 3) Tafsir Qur’an karya Zainuddin Hamidy CS. 4) Tafsir Sinar karya Malik Ahmad 5) Tafsir al-Bayan karya T.M Hasbi Ash-Shiddiqy 6) Tafsir An-Nur karya T.M Hasbi Ash-Shiddiqy 7) Al-Qur’an Bacaan Mulia karaya H.B Jassin 8) Tafsir Azhar karya Hamka Dari delapan karya tafsir yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat corak yang mendominasi karya-karya tersebut di atas yaitu : 1) Corak umum Karya tafsir yang bercorak umum dalam arti kata bahwa karya-karya tersebut tidak ada corak yang dominan pada karya tesebut. Karya-karya yang bercorak umum tersebut adalah ; i. Al-Qur’an dan Terjemahannya oleh Departemen Agama R.I, ii. Al-Qur’an dan Terjemahannya oleh Yayasan Bahrul Ulum, iii. Tafsir Qur’an karya Zainuddin Hamidy CS., iv. Tafsir Sinar karya Malik Ahmad, v. Tafsir al-Bayan karya T.M Hasbi Ash-Shiddiqy. Kelima karya tersebut di atas bercorak umum dimana tidak terdapat cirikhas atau domain tertentu diantar corak-corak tafsir yang ada, akan tetapi karya tersebut tidak lebih dari sekedar terjemahan dan penjelasan akan ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan. Meskipun secara parsial karya T.M Hasbi dalam al-Bayan menjelaskan beberapa hukum syari’at yang memiliki hubungan dengan ayat, tetapi bentuk penjelasannya tidak mendominasi isi karyanya tersebut. 2) Corak Fiqhi Adapun diantara karya-karya yang tersebut di atas yang memiliki corak fiqhi atau dominasi penjelasan di dalamnya di arahkan pada penjelasan fiqhi adalah Tafsir An-Nur karya T.M Hasbi, dimana hampir pada setiap ayat yang dijelaskan dihubungkan pada masalah-masalah hukum yang terkait dengan ayat. Adapun bentuk perbedaan antara corak Fiqhi yang terdapat dalam tafsir An-Nur dengan kitab tafsir bercorak fiqhi lainnya adalah bahwa tafsir an-Nur tidak berafiliasi pada mazhab apapun. 3) Corak Adabi Ijtima’i Diantara karya tafsir yang disebutkan di atas memiliki corak adabi ijtima’i adalah karya Hamka yang berjudul Tafsir Azhar , dimana dalam hampir disetiap ayat yang ditafsirkan oleh Hamka dalam karyanya tersebut beliau menghubungkannya dengan konteks sosial kemasyarakatan, baik masyarakat kelas atas seperti raja, masyarakat biasa, maupun individu, semua hal ini tergambar dalam karya Hamka tersebut.[21] Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa karaya Hamka dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an adalah bercorak sosial kemasyarakatan (Adabi Ijtima’i) dengan pendekatan tasawuf. 4) Corak Sastra Adapun karya yang mewakili corak sasatra dari karya-karya yang tersebut di atas adalah karya H.B Jassin yang berjudul Al-Qur’an bacaan Mulia, Karya ini lebih merupakan upaya penerjemahan al Qur’an ke dalam Bahasa Indonesia dengan bahasa puitis. Hal ini sesuai dengan latar belakang HB Jassin yang merupakan seorang sasterawan. Latar belakang penerjemahan al Qur’an dengan bahasa puitis adalah karena al Qur’an memiliki kandungan sastra yang tiada tara. 5) Corak Dakwah Dinatara karya-karya tafsir ulama Indonesia yang ditulis dengan menggunakan corak dakwah adalah karaya M.Qurash Shihab yang berjudul Tafsir al-Mishbah. Corak dakwah yang terkandung di dalam karya M. Quraish Shihab dapat teridentifikasi dari judul krayanya dimana beliau menyebutkan karya tersebut Tafsir Al-Mishbah; Pesan,Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Dari judul karya tafsir menunjukkan bahwa M. Qurash Shihab bermaksud untuk menyampaikan peasan dakwah Islamiyah yang terkandung di dalam al-Qur’an. KESIMPULAN Berdasarkan uraian-uraian di atas penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikt; 1. Corak Tafsir bila ditinjau dari segi pengertian istilahnya adalah: nuansa atau sifat khusus yang mewarnai sebuah penafsiran dan merupakan salah satu bentuk ekspresi intelektual seseorang mufassir, ketika ia menjelaskan maksud-maksud ayat al-Qur’an. Artinya bahwa kecenderungan pemikiran atau ide tertentu mendominasi sebuah karya tafsir. Kata kuncinya terletak pada dominan atau tidaknya sebuah pemikiran atau ide tersebut. Kecenderungan inilah yang kemudian muncul ke permukaan pada periode abad pertengahan. 2. Corak Penafsiran al-Qur’an di Indonesia dapat ditinjau dari periodesasi penulisan karya tersebut dimana pada peride klasik tafsir al-Qur’an di Indonesia belum menemukan coraknya yang tertentu, pada periode pertengahan sorak tafsir al-Qur’an bermuara pada dua bentuk nuansa yaitu bernuansa Tasawuf dan Umum, pada periode Pra-Moderen tafsir al-Qur’an kemudian merujuk kepada nuansa tafsir al-Jalalain, sementara pada periode modern corak penfsiran al-Quran kemudian beragam, dianataranya ada bercorak Umum, Fiqhi, Adabi Ijtima’I, Sastra, dan Dakwah. [1] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal-220 [2] az-Zahabi, “At-Tafsir wa-Al-Mufassirun”. (Cet VII; Cairo: Maktabah Wahbah, 1421 H-2000 M), Jilid I, hal-8 [3] Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir”, Cet I; Solo: Tafakur,2007, hal- 205-206 [4] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Cet XIV; Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997, hal. 1068 [5] az-Zahabi, Op.Cit.,hal- 12 [6] Muhammad bin Mukram bin Manzhur al-Afriqy, Lisan al-’Arab. (Cet.I; Beirut: Dar Shadir, 1412 H),Jld. V, h.55 [7] Az-Zarkasyi, “Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an”,Darul Ahya al-kutub al-Arabiyah, Jilid I cet I, 1376 H-1957 M, hal-13 [8] http://id.wikipedia.org/wiki/Tafsir_Al-Qur%27an. [9] Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia; Dari Hermenutika Hingga Ideologi. (Cet. I; Jakarta Selatan: Teraju, 2003), h. 9, 231-136 [10] Nasiruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Di Indonesia. (Cet. I; Solo: PT. Tiga Serangkai, 2002), h. 37-38 [11] Nasiruddin Baidan. Op. Cit., h. 54 [12] Anthony H. Jhons, Qur’anic Exegesis in the Malaya-Inndonesia World: An Interduction Survey. Dalam Abdullah Saeeed (ed), Approach to the Qur’an in Contemporary Indonesia. terjemahan Syahrullah Iskandar dengan judul, Tafsir al-Qur’an Di Dunia Indonesia-Melayu: Sebuah Penelitian Awal. Dalam Jurnal Studi Al-Qur’an.(Volume.I, No. 3; Ciputat: Pusat Studi Al-Qur’an, 2006), h. 463 [13] G.W.J. Drewes and L.F. Barkel, The Poems of Hamzah Fansuri. Dalam Anthony H. Jhons. Ibid., [14] Ibid., h. 464 [15] Ibid., h. 466 [16] Ibid., [17] Ibid., h. 468 [18] Haward M. Federspiel, Popular Indinesian letarature of Qur’an. Terjemahan Tajul Arifin dengan judul, Kajian al-Qur’an di Indonesia: Dari Mahmud Yunus Hingga Qurash Shihab. (Cet. I; Bandung: Mizan, 1996), h. 129-136 [19] Nasiruddin Baidan, Op. Cit., h. 92 [20] Ibid., 93 [21] Ibid., h. 105 Sumber:http://thkhusus.wordpress.com/2009/12/31/corak-tafsir-di-indonesia/

0 comments:

Loading...
Lenyap Tak Berarti Hilang,Diam Tak Berarti Lupa,Jauh Tak Berarti Kita Putus,Coz Antara Kita Ada Satu Ikatan Yaitu"Persaudaraan" Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1428 H Dan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Minalaidzin Walfaidzin Mohon Maaf Lahir Dan Batin,Semoga Allah SWT Memberikan Rizki,Kelapangan Hati dan mengabulkan Permohonan Kita Semua,Amiiiin…

Popular Posts

Template by : kendhin x-template.blogspot.com